Aku Lupa, Dia Istimewa

Aku Lupa, Dia Istimewa 1
Oleh : Anisa Nurwahyuni

Bismillaahirrohmanirrohiim
Aku salah satu wanita, yang bahagia ketika status sebagai seorang Ibu, akhirnya kusandang ketika bayi pertamaku lahir dengan selamat, setelah sepuluh bulan pernikahanku. Yang hadirnya, bagiku begitu cepat tak seperti yang lain, membutuhkan waktu bertahun-tahun menanti sang buah hati. Hal itu tentu merupakan suatu anugerah dari-Nya yang sepatutnya aku lebih mensyukurinya. Melihat ada banyak wanita di luar sana yang butuh banyak perjuangan dibanding diriku.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, kujalani hidup dengan penuh rasa bangga atas kehadirannya. Aku bangga memilikinya. Seolah tiada wanita yang sebahagia aku. Rasanya seolah bumi milik aku dan anakku saja. Hingga waktu berlalu begitu cepat, tak terasa usianya sudah satu tahun. Anaknya lincah dan aktif, periang dan murah senyum. Kulitnya yang putih, bermata sipit, yang kata sebagian orang cantiknya bak anak korea, tingkahnya yang lucu membuat banyak orang senang dan gemas dengannya. Sejenak aku tersanjung dengan pujian yang sering mereka ucapkan kepada anakku.
Namun seiring berjalannya waktu, pujian mereka kepada anakku mulai membuatku merasa risih dan resah. Merasa tak nyaman dengan kalimat-kalimat yang mereka lontarkan. 
“ Aduh, cantikknya kamu nak, nggak mirip mama kamu “.
“ Putihnya ya anaknya, padahal mamanya nggak putih “.
“ Kalau diperhatikan, dia lebih cocok jadi anak orang, bukan anak bu Nisa “. Dan komentar-komentar lainnya. Bagaimana tidak merasa risih, komentar yang dilontarkan kepada anakku cukup menghadirkan luka pada seonggok daging dalam dadaku. Komentar lain yang lebih buruk pun sering kudengar walau tak secara langsung di depan mataku. Komentar yang menurut mereka pujian untuk anakku, akhirnya mudah dan terbiasa di bibir mereka. Entah mereka sadar atau tidak, pujian mereka justru membuatku semakin terluka. Membuka kembali luka batin yang dulu pernah menyelumuti relung jiwaku, kala aku masih belia oleh sebab yang hampir sama. Luka batin yang  masih meninggalkan bekas hingga kini.
Sebagai ibu, yang pasti ingin selalu terlihat bahagia untuk anaknya, aku berusaha untuk tetap positif thinking, menepis semua rasa sakit yang datang merambat pada seonggok daging dalam dada. Meyakinkan jiwa kelak semua pasti berlalu, seperti dulu. Seperti saat orang-orang membandingkan perbedaan rupa dan fisik antara aku, ibuku, dan saudaraku. Semua akan baik-baik saja akhirnya. Hatiku mungkin yang terlalu sensitif menanggapi komentar mereka, menyadari aku tengah mengandung anak kedua sejak anak pertama berusia sepuluh bulan. Lagi-lagi rezeki menghampiriku. Antara senang dan sedih bercampur aduk, aku dilema. Rasanya belum sanggup mengemban amanah baru dalam rahimku. Bagiku anakku masih terlalu kecil untuk punya calon adik.
Sejenak aku berpikir, mungkin hadirnya amanah baru di rahimku bisa menghapus bayang-bayang negatif yang sedang menari-nari di pikiran dan hatiku. Aku terhibur, namun bibirku hanya mampu tersenyum getir, menyaksikan tingkah laku anakku yang berusaha menarik perhatianku. Merasa masih tak menerima dengan ucapan mereka yang kian hari menghantui pikiranku.
“ Ah, aku harus bangkit dan menatap ke depan, aku tak boleh lemah. Ada batita dan janin yang lebih membutuhkan perhatian dan kasih sayangku.“ Batinku suatu hari sambil menatap sayu anakku yang tengah berdiri di hadapanku. Rupanya sedari tadi dia memperhatikanku. Beberapa kali dia menarik-narik tanganku mengajak bermain, tapi aku terbawa arus lamunan hingga tak sadar dengan ocehan yang gaya bahasanya sebagian masih belum kupahami secara harfiah. 
Dalam kondisi hamil tri semester pertama, hampir semua ibu pasti merasakan hal yang namanya mengidam. Kondisi di mana tubuh sangat lemah dan rawan aktivitas. Akal dan pikiran jadi lebih sensitif dengan omongan dan pendapat di sekitar. Emosi lebih mudah terganggu dengan segala hal yang terjadi. Kendati masih banyak juga di luar sana para ibu dan calon ibu yang diberikan kemampuan mengolah emosinya tatkala sedang mengandung, terutama di tri  semester pertama. Bahkan ada yang tidak mengalami ngidam sama sekali. Tapi yang terjadi padaku tidak demikian, tak seperti sebagian ibu di luar sana. Tri semester pertama kualami dengan begitu lemah dan tak berdaya, sama halnya ketika aku hamil anak pertama. Mual, muntah, pusing, yang kerap kali menyerang tanpa jeda, bahkan sampai muntah darah karena kehabisan cairan makanan. Tak mampu makan dan minum dengan baik semakin membuat tubuhku sakit dan pikiran tak lagi jernih. Aku butuh banyak istirahat layaknya orang sakit. Sejenak aku dapat melupakan rasa sakit di hatiku. Aku fokus pada rasa yang disebabkan kehamilan tri semester pertamaku.
Namun, otomatis semua kondisi yang kualami itu pun sangat berpengaruh pada pola asuhku kepada anakku. Diusia satu tahun di mana tahap perkembangannya telah dimulai di beberapa aspek. Di mana dia sangat membutuhkan pengawasan dan perhatianku di segala aktivitasnya, yang sesekali semestinya aku harus terlibat bermain bersamanya. Tetapi aku lebih sering memilih berbaring menelungkupkan badan di atas kasur, sambil menutup mata, oleh karena tak mampu mengatasi aneka rasa yang menyerangku.
“ Nak, kalo boleh mainlah dulu sendiri “,
“ Umi bobo dulu ya, umi pusing, Nak “. Ujarku suatu waktu. Berharap dia mengerti maksudku sambil menyodorkan beberapa mainan padanya.  Tak ada pilihan lain selain menyuruhnya bermain sendiri, ayahnya pun tak bisa menemaninya karena ayahnya di sekolah. Aku sendiri memaksa cuti dari mengajar, karena sekolah berat memberikan izin cuti oleh karena sekolah tempatku mengajar adalah satuan RA, yang juga sangat membutuhkan  pengawasan ekstra di setiap kelas yang diamanahi. 
Setiap hari berlalu seperti itu. Sungguh aku lelah, aku tak kuat lagi jika dari pagi hingga sore mengayominya dengan kondisi yang makin lemah. Syukurlah, di malam hari ayahnya yang mengambil alih. Hanya saja anaknya mulai rewel jika bosan seharian dalam rumah. Dia semakin aktif, kadang aktifnya kebablasan. Dia mulai menunjukkan sikap agresifnya jika merasa tak dihiraukan. Menarik-narik rambutku, menggigitku, dan menginjak perutku dengan kakinya yang mungil, bahkan mengamuk, jadi senjata andalannya ketika dia melihatku berbaring di tempat tidur. Entah kenapa sikapnya itu memancing kembali emosiku yang tadinya sempat terlupakan. Tingkah lakunya yang lucu sudah tak mampu mengukir senyum di bibirku lagi. 
Aku jadi tak sabaran menghadapi sikapnya. Yang hampir setiap hari memaksaku marah dan akhirnya hal yang tak kuinginkan terjadi. Aku jadi sering membentaknya dan mengabaikannya, bahkan kadang aku memukulnya, diusia sedini itu. Lambat laun aku merasa sikapku jadi semakin kejam pada anakku. Tanpa kusadari, pikiran negatif mulai merasuk di  jiwaku. 
“ Mungkin ini pantas kau dapatkan, Nak “,
“ Kau terlalu banyak menerima pujian, sedang aku ibumu dihina “,
“ Aku yang melahirkanmu, tanpa aku, dengan izin-Nya kau tak mungkin terlahir “,
“ Elok rupa dan indah fisikmu, itu kelebihan yang Allah berikan padamu. sedang aku, ibumu, Dia jua yang menciptakan. Kenapa aku  dihina? “. Ucapku lirih bergemuruh dalam kalbu. Ada rasa iri dan dan beci menempati relung jiwaku.
Anakku yang tak tahu apa-apa itu jadi korban pelampiasan amarahku. Menyandang kebencian dari ibu kandungnya sendiri. Hingga anak keduaku lahir, usianya baru satu tahun tujuh bulan, usia yang masih sangat membutuhkan pelukan kasih dan mesra. Tapi rasa benciku padanya masih bersemayam dalam kalbuku. Bukannya berkurang, sikap kasarku padanya justru lebih bertambah. Apatah lagi dengan hadirnya anak kedua di sisiku, aku menuntutnya bisa lebih mengerti akan keadaanku yang tak bisa menghabiskan banyak waktu lagi bersamanya. khawatir dia bisa menyakiti adiknya, aku sering memintanya menjauh, tapi ia hanya bisa menatap dalam mataku, berusaha mengerti akan maksud ibunya.
Seiring waktu berjalannya waktu, anakku yang dulunya dekat denganku, walau sering kena marahku, tapi sejak hadir adiknya, dia mulai berubah. Dia mulai merasa tersaingi dan sangat terabaikan olehku. Dia jadi enggan mendekatiku, beralih memilih mendekap pada  kasih sayang ayahnya. Dia terpaksa harus mengerti bahwa ibunya kurang menyukainya. Tampak ada kekecawaan yang tergambar di matanya yang sayu ketika menatapku. Namun hatiku tak juga beranjak dari rasa benciku.
Suatu ketika, di siang hari, aku tertidur nyenyak sambil menyusui anak keduaku. Begitu bangun, aku mendapati anak pertamaku sedang duduk di samping keranjang pakaian, berusaha merapikan pakaian adiknya yang belum sempat kulipat. Aku tersentuh, anak sekecil itu sudah bisa berpikir merapikan pakaian. Tapi aku hanya menatapnya dari arah tempat tidur, tak berusaha memujinya. Berharap di esok hari dia bisa lebih mandiri Lagi. Seolah mendengar suara hatiku, di kemudian hari, dia selalu berusaha menunjukkan hal-hal yang bisa dia lakukan sendiri. Berharap mendapat pujian dariku, tapi aku selalu saja merespon dengan acuh tak acuh. Dan selalu berakhir membuat hatinya sedih. Kali terakhir aku tetap diam tak menanggapi, disitulah tampak bulir-bulir bening tergenang di matanya. Mengundang rasa ibaku padanya. Tiba-tiba terasa ada sesuatu mengganjal dalam kalbuku.
“ Bagaimana mungkin kau terus seperti ini pada anakmu yang masih kecil, sedang dia tak tahu apa-apa? ”,
“ Mengapa karena omongan orang, membuatmu menyakiti anakmu sendiri? ”,
“ Apakah kau tak tahu, anak kecil itu pun tak menginginkan ibunya dihina? ”,
“ Bukankah kehadirannya sangat kau nantikan, hingga kau begitu bahagia ketika mengandungnya? ”,   
“ Bukankah status Ibu kau dapatkan, karena kehadirannya? ”,
“ Bukankah kau dulu begitu bahagia, ketika dia terlahir dengan selamat? hingga kau lupa peristiwa  yang hampir merenggut nyawamu dan nyawanya ? ”,
“ Apakah kau jua lupa, kehadirannya yang istimewa? Karena dia hidupmu berwarna. Karena dia rumah tanggamu lengkap tak seperti sebagian orang di luar sana yang menanti bertahun-tahun lamanya? ”. Rentetan bisikan suara kalbuku menyadarkan akan sikapku yang salah pada anakku yang tak berdosa. 
Bulir-bulir bening mengalir membasahi pipiku. Seolah jeritan hati anakku pada Robbnya terkabul. Aku terduduk lunglai mengingat begitu banyak kesalahan yang kulakukan pada anakku. Aku meraih tubuh mungil yang tengah beranjak meninggalkan diriku yang tadinya acuh. Sambil tersengguk kudekap dirinya, kucium pipinya yang merona, kukecup dahinya. Dalam tangisku yang lirih, aku mencoba meminta maaf padanya. namun dia hanya terdiam melihat sikapku, jiwanya seakan enggan menyapaku. Terlalu besar luka yang kuhadirkan dalam hati bertubuh mungil itu. Bergetar jiwaku merasa terlambat menyadari, betapa aku tak menyangka pujian kepada anakku yang sempat membuatku bangga itulah yang sebenarnya membuat DIA cemburu dan lupa pada-Nya. Hingga berakhir jua menyakitiku. Allahu Robbi  maafkanlah diriku. 

Bersambung,,,,